
sekolahentrepreneurtohaga – Kegiatan kunjungan edukatif yang dilakukan oleh siswa SET (Sekolah Entrepreneur Tohaga) ke Langkah Membumi Festival di Jakarta pada bulan November 2024 menjadi salah satu pengalaman belajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga membekas secara emosional.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi kota besar, seperti polusi udara dan persoalan sampah, festival ini menghadirkan pendekatan baru dalam mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap bumi.
Sejak awal kedatangan, siswa SET sudah diperkenalkan pada konsep festival yang berbeda dari biasanya. Tidak ada spanduk berlebihan atau sampah berserakan. Sebaliknya, mereka disambut dengan instalasi seni berbahan dasar limbah daur ulang yang kreatif dan inspiratif.
Tulisan “Membumi, Bukan Hype” yang terpampang di area masuk menjadi pengingat kuat bahwa kepedulian lingkungan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Salah satu pembelajaran awal yang diperoleh siswa adalah penerapan sistem tiket digital. Seluruh proses masuk dilakukan tanpa kertas, yang sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah.
Lebih dari itu, setiap tiket yang dibeli turut berkontribusi pada program penanaman pohon. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa setiap aktivitas manusia, sekecil apa pun, dapat dirancang agar memiliki dampak positif bagi lingkungan.
Perjalanan edukasi siswa berlanjut menuju area utama festival, yaitu panggung Ztem Builder. Panggung ini menjadi simbol nyata dari konsep keberlanjutan, karena dibangun menggunakan sekitar 80% material bekas seperti limbah konstruksi dan palet kayu.
Di sini, siswa diajak memahami bahwa barang yang dianggap tidak terpakai masih memiliki nilai guna jika dikelola dengan kreativitas dan kesadaran lingkungan.
Di area yang sama, siswa mengikuti sesi “Repair & Share” yang bekerja sama dengan PEPPERL. Dalam kegiatan ini, siswa menyaksikan secara langsung bagaimana barang-barang seperti tas, jaket, atau sepatu yang rusak dapat diperbaiki dan digunakan kembali.
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa budaya memperbaiki barang perlu ditanamkan sebagai alternatif dari kebiasaan konsumtif yang cenderung membuang dan membeli baru.
Tidak hanya itu, siswa juga mengikuti berbagai kegiatan interaktif yang memperkaya wawasan mereka. Salah satu yang paling menarik adalah workshop “Zero Waste Kitchen”.
Dalam sesi ini, siswa belajar bagaimana mengolah bahan makanan secara optimal tanpa menghasilkan limbah. Mereka diperkenalkan pada cara memanfaatkan sisa bahan makanan, seperti kulit sayur atau buah, agar tetap bernilai guna.
Kegiatan ini memberikan perspektif baru bahwa dapur rumah tangga pun dapat menjadi titik awal perubahan menuju gaya hidup ramah lingkungan.
Selanjutnya, siswa mengikuti sesi diskusi dalam program “Membumi Talk” bersama Komunitas Bank Sampah.
Dalam sesi ini, mereka mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta bagaimana sampah yang dikelola dengan baik dapat memiliki nilai ekonomi.
Diskusi ini juga membuka wawasan siswa tentang dampak negatif limbah plastik terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan benar.

Kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah mengunjungi booth-booth yang tersususn rapi di area kegiatan, serta kunjungan ke pasar swalayan tanpa plastik. Di area ini, siswa diwajibkan membawa wadah sendiri untuk berbelanja.
Pengalaman ini menjadi praktik langsung yang mengajarkan tanggung jawab individu dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Banyak siswa yang awalnya merasa hal tersebut merepotkan, namun kemudian menyadari bahwa kebiasaan kecil seperti ini dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, siswa SET tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana gaya hidup ramah lingkungan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan, mulai mengurangi penggunaan plastik, serta memahami pentingnya proses recycle dan reuse.
Kunjungan ini juga menjadi sarana pembentukan karakter. Siswa dilatih untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, bertanggung jawab atas tindakan mereka, serta berpikir kreatif dalam mencari solusi terhadap permasalahan lingkungan.
Nilai-nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan SET yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan jiwa kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Di akhir kegiatan, siswa membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman berkunjung ke festival. Mereka membawa kesadaran baru bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari diri sendiri.
Langkah sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum sendiri, atau mengurangi penggunaan plastik menjadi bentuk nyata dari aksi cinta lingkungan.
Kunjungan ke Langkah Membumi Festival ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan dapat dikemas dengan menarik, interaktif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda.
Dengan pendekatan yang kreatif dan kolaboratif, siswa tidak hanya belajar, tetapi juga terinspirasi untuk menjadi bagian dari solusi.
Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi keberlangsungan bumi. Sesuai dengan semangat yang diusung festival, langkah yang paling membumi adalah langkah yang benar-benar dilakukan.
Penulis : Syahidah M